Jumat, 26 Oktober 2012

PEMIKIRAN KH. AHMAD DAHLAN TENTANG PENDIDIKAN ISLAM


Oleh: Arfian Bayu Bekti
BAB I
PENDAHULUAN
Sejarah pemikiran dalam Islam memang merupakan bawaan dari ajaran Islam sendiri. Karena dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan untuk membaca, berfikir, menggunakan akal, yang kesemuanya medorong umat Islam terutama pada ahlinya untuk berfikir mengenai segala sesuatu guna mendapatkan kebenaran dan kebijaksanaan.
Kebangkitan pemikiran dalam dunia Islam baru muncul abad 19 yang dipelopori oleh Sayyid Jamalludin al-Afghani di Asia Afrika, Muhammad Abduh di mesir. Kedua tokoh ini di bawa oleh pelajar Indonesia yang belajar di Timur Tengah seperti diantaranya K.H. Ahmad Dahlan. Berbekal ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide pembaru dari Timur Tengah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba menerapkannya di bumi Nusantara.
Muhammad Dahlan dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. la menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Mekkah selama lima tahun.
Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sarna, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (keislaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup Singkat KH Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan yang pada waktu kecilnya bernama Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan di Kauman Yogyakarta dari pernikahan Kyai Haji Abu Bakar dengan Siti Aminah pada tahun 1285 H (1868 M ). Kyai Haji Abu Bakar adalah khatib di Majid Agung Kesultanan Yogyakarta, sedangkan ayahnya Siti Aminah adalah penghulu besar di Yogyakarta.[1]
Kampung Kauman sebagai tempat kelahiran dan tempat Muhammad Darwis dibesarkan merupakan lingkungan keagamaan yang sangat kuat, yang berpengaruh besar dalam perjalanan hidup Muhammad Darwis di kemudian hari. Ayahnya KH Abu Bakar adalah Khotib Masjid Agung Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan belajar mengaji sekitar tahun 1875 dan masuk pesantren. Sudah sejak kanak-kanak diberikan pelajaran  dan pendidikan agama oleh orang tuanya, oleh para guru (ulama) yang ada di dalam masyarakat lingkungannya. Ini menunjukan naluri melainkan juga melalui ilmu-ilmu yang diajarkan kepadanya. Pengetahuan yang dimiliki sebagian besar merupakan hasil otodidaknya, kemampuan membaca dan menulisnya diperoleh dari belajar kepada ayahnya, sahabatnya dan saudara-saudaranya dan iparnya. Ia di didik sendiri melalui cara pengajian yaitu dengan menirukan kalimat-kalimat atau bacaan yang diajarkan oleh ayahnya.
Dikala muda KH. Ahmad Dahlan terkenal memiliki pikiran yang cerdas dan bebas memiliki akal budi yang bersih dan baik. Pendidikan agama yang diterima dipilih secara selektif tidak hanya itu tetapi sesudah dipikirkan di bawa dalam perenungan-perenungan, ingin dilaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Waktu menjelang dewasa KH Ahmad Dahlan belajar Ilmu Fiqih kepada KH Muhammad Shaleh. Dan belajar Ilmu Nahwu kepada KH Muhsin, kemudian gurunya yang lain ialah KH Abdul Hamid. Keahlian dalam Ilmu Falaq, diperoleh dari belajar dan berguru kepada KH Raden Dahlan salah seorang putra Kyai Termas dan yang terakhir Ilmu Hadits dipelajarinya dari Kyai Mahfud dan Syech Khayyat.[2]
Pada usia 22 tahun (1890) dengan bantuan kakaknya ( Nyai Hajah Sholeh ) beliau pergi ke Makkah, dan belajar disana selama satu tahun untuk memperdalam ilmu pengetahuan tentang Islam, setelah kembali lagi ke Kauman Yogyakarta KH Ahmad Dahlan membantu ayahnya mengajar pengajian anak-anak namun pada kesempatan-kesempatan yang memungkinkan sering pula KH Ahmad Dahlan mewakili ayahnya memberikan pelajaran keagamaan kepada orang-orang yang usianya lebih tua dari dirinya sendiri, keadaan itu telah  menyebabkan pengaruh KH Ahmad Dahlan luas karena masyarakat semakin yakin bahwa KH Ahmad Dahlan adalah seorang yang memiliki ketaatan beragama yang baik dan seorang yang mumpuni, baik dalam ilmu maupun dalam penalangan akal budi, oleh sebab itu maka KH Ahmad dahlan di gelari degan sebutan “Kyai” lengkapnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Sebagai seorang kyai, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok ulama yaitu orang yang saleh dan menekuni serta memiliki wawasan keilmuan tentang agama Islam.
Dalam silsilah, beliau termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka di antara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa.
B.     Dasar Pemikiran
Selama beliau berstudi di Makkah tampaknya Tafsir al- Manar yang dikarang oleh Muhammad Abduh mendapat perhatian serius dan yang paling disenanginya, tafsir ini memberikan cahaya terang dalam hatinya serta membuka akalnya untuk berfikir jauh kedepan tentang eksitensi  Islam di Indonesia yang pada waktu itu masih sangat tertekan dari penjajah kolonial Belanda, ketika ia belajar di Makkah itulah, mempunyai kesempatan baik untuk dapat bertukar pikiran langsung dengan Rasyid Ridha, yang diperkenalkan KH Bakir. Ide reformasi telah meresap di hatinya, dengan dasar ilmu-ilmu yang diperolehnya, demikian pula pengalaman keagamaan yang ia alami di Makkah, mendorong ia melakukan perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan kaum Muslimin di tanah air.[3]
Dalam bukunya Dr. H. Maksum (1999) Steenbrink mengidentifikasikan ada empat faktor yang mendorong gerakan pembaharuan Islam di Indonesia awal abad 20 antara lain:
1.      Faktor keinginan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al- Hadits.
2.      Faktor semangat nasionalisme dalam melawan penjajahan.
3.      Faktor memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya dan politik.
4.      Faktor pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Dalam hal ini ia memberi catatan bahwa, ke empat faktor itu tidak secara terpadu mendorong gerakan pembaharuan; melainkan bahwa gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul di Indonesia disebabkan oleh salah satu atau dua faktor tersebut. Dengan kata lain menurut Steenbrink gerakan-gerakan pembaharuan Islam di Indonesia memiliki alasan atau motif yang berbeda-beda.
Untuk itu KH. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah organisasi Islam yaitu Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912.  KH. Ahmad Dahlan meletakkan batu pertama ke organisasian Islam dengan Muhammadiyah, ini atas dasar melihat tujuan didirikannya Muhammadiyah kiranya semua motif yang empat diatas adalah benar atas dasar pemikiran KH. Ahmad Dahlan.
Ada beberapa faktor intern dan faktor ekstern, yang mendorong mengapa KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah:[4]
Yang merupakan faktor intern adalah:
a.       Kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, karena merajalelanya taklid, bid’ah dan churafat (TBC), yang menyebabkan Islam menjadi beku.
b.      Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran.
c.       Tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat.
d.      Lembaga pendidikan Islam tak dapat memenuhi fungsinya dengan baik, dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno.
e.       Adanya pengaruh dan dorongan, gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam.
Faktor-faktor ekstern, mencakup:
a.       Adanya kolonialisme Belanda di Indonesia.
b.      Kegiatan serta kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen dan Katolik di Indonesia.
c.       Sikap sebagian kaum intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan zaman.
d.      Adanya rencana politik kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonialnya.
Pendirian KH. Ahmad Dahlan mengenai pentingnya organisasi bagi pelaksanaan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, memang mutlak meskipun dalam hal ini organisasi hanya merupakan sarana, bukan tujuan. Ada tujuan yang tidak dapat sampai kepada tujuan yang dicita-citakan, hal ini di sebabkan sarana itu tidak tepat atau kurang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Banyak kalangan yang menggambarkan K.H. Ahmad Dahlan adalah sosok tua yang memakai sorban dan menentang keras apapun yang berbau budaya Barat. Anggapan semacam itu bisa dimaklumi, bisa jadi lantaran selama ini gambar beliau yang terpampang di mana-mana adalah sosok yang sudah sepuh memakai sorban. Padahal, beliau di masa mudanya merupakan sosok yang berpenampilan cukup “gaul.” Hal itu antara lain tercermin pada penampilan beliau saat pulang dari Makkah yang menenteng kitab dan biola.
C.    Pemikiran Pendidikan
KH. Ahmad Dahlan adalah tokoh yang tidak banyak meninggalkan tulisan, beliau lebih menampilkan sosoknya sebagai manusia amal atau praktisi dari pada filosuf yang banyak melahirkan gagasan-gagasan tetapi sedikit amal, sekalipun demikian tidak berarti beliau tidak memiliki pemikiran. Sebagai wujud kongkrit yang dicetuskan beliau yaitu Muhammadiyah yang sampai sekarang masih eksis.
Adapun metode yang ditawarkan KH. Ahmad Dahlan merupakan sintesis antara metode pendidikan Belanda dengan metode pendidikan tradisional. Amal usaha Muhammadiyah merupakan refleksi dan manifestasi pemikiran beliau dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Istilah pendidikan disini dipergunaksn dalam konteks yang luas tidak hanya terbatas pada sekolah formal tetapi mencakup semua usaha yang dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan dari generasi terdahulu kepada generasi muda, dalam konteks ini termasuk dalam pengertian pendidikan adalah kegiatan pengajian, tabligh dan sejenisnya.
Adapun tujuan pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan yaitu membentuk manusia yang:
1.      Alim dalam ilmu agama.
2.      Berpandangan luas, dengan memiliki pengetahuan umum;
3.      Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dalam menyantuni nilai-nilai keagamaan pada masyarakat.
Rumusan tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan pesantren yang hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang salih dan mendalami ilmu agama. Di dalam system pendidikan pesantren tidak diajarkan sama sekali pelajaran dan pengetahuan umum serta menggunakan tulisan latin. Semua kitab dan tulisan yang diajarkan menggunakan bahasa dan tulisan Arab. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan “sekuler” yang di dalamnya tidak diajarkan ilmu agama sama sekali. Pelajaran di sekolah ini menggunakan huruf latin. Akibat dualisme pendidikan tersebut dilahirkan dua kutub inteligensia; lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum dan lulusan sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat ketimpangan itu KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spiritual serta dunia dan akhirat. Bagi beliau keduanya tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Pada tahun 1912, beliau mengadakan acara Sidratul Muntaha, sebuah pelajaran mengaji dan berdakwah dalam rangka merintis pergerakan Muhammadiyah di sebuah langgar di Kauman bagian selatan. Pada tahap berikutnya, beliau mendirikan sebuah sekolah lanjutan yang berdiri pada tahun 1919 bernama Hooge School Muhammadiyah dan kemudian diganti menjadi Kweek School pada tahun 1923. Pada tahun 1930, sekolah ini dipecah menjadi dua, untuk laki-laki (Mu’allimin) dan perempuan (Mu’allimat).[5]
D.    Pendidikan dan Pengajaran
Muhammadiyah berusaha mengembalikan ajaran Isam pada sumbernya yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Muhammadiyah bertujuan meluaskan dan mempertinggi pendidikan agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya. Untuk mencapai tujuan itu, muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Masalah pendidikan dan pengajaran menjadi perhatian yang utama dari Muhammadiyah. Pada 30 Maret - 2 April 1923, Muhammadiyah secara mendalam membicarakan lembaga yang menentukan corak masyarakat dikemudian hari. Sebagai hasilnya pada tanggal 14 Juli 1923 berdirilah suatu badan yang diberi nama Majelis Pimpinan Pengajaran Muhammadiyah. Ketua pertama Majelis Pimpinan Pengajaran Muhammadiyah yaitu Mas Ngabehi Joyosugito.[6]
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran Muhammadiyah telah mengadakan pembaruan pendidikan agama. Modernisasi dalam sistem pendidikan dijalankan dengan menukar sistem pondok pesantren dengan pendidikan modern sesuai dengan tuntutan dan kehendak zaman.Pengajaran agama Islam diberikan di sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta. Muhammadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah baik yang khas agama maupun yang bersifat umum.
Sekolah-sekolah yang didirikan Muhammadiyah selalu mengikuti stelsel pengajaran pemerintah Hindia Belanda. Karena itu, banyak sekolah-sekolah Muhammadiyah mendapat subsidi dari pemerintah Hindia Belanda.Pada zaman pemerintah Hindia Belanda Muhammadiyah mempunyai bagian-bagian sekolah.[7]
Taman kanak-kanak (Bustanul Athfal), Sekolah Angka II, Sekolah Schakel, HIS, MULO, Inheemse MULO, Normaalschool, Kweekschool, HIK, dan AMS; sedangkan sekolah-sekolah agama yaitu: Ibtidaiyah (Sekolah Dasar dengan dasar Islam), Tsanawiyah (Sekolah Lanjutan dengan dasar Islam/Diniyah), yang hanya memberikan pelajaran agama Islam, Muallimin/Muallimat (Sekolah Guru Bawah Agama Islam), dan Kulhiyatul Mubalighin (sekolah Pendidikan Guru Agama Islam). Pada zaman pendudukan Bala Tentara Jepang sekolah-sekolah Muhammadiyah ini pada umumnya berjalan terus meskipun ada kegoncangan disana-sini.
Muhammadiyah menanamkan keyakinan paham tentang Islam dalam sistem pendidikan dan pengajaran.  Penerapan sistem pendidikan Muhammadiyah ini ternyata membawa hasil yang tidak tenilai harganya bagi kemajuan, bangsa Indonesia pada umumnya dan khususnya umat Islam di Indonesia.
Muhammadiyah, berpendirian, bahwa para guru memegang peranan yang penting di sekolah dalam usaha menghasilkan anak-anak didik seperti yang dicita-citakan Muhammadiyah. Yang penting bagi para guru ialah memahami dan menghayati serta ikut beramal dalam Muhammadiyah. Dengan memahami dan menghayati serta ikut beramal dalam Muhammadiyah, para guru dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang dicita-citakan Muhammadiyah.
Dalam muhammadiyah, guru menduduki tempat penting, tidak hanya sekadar alat mekanis tanpa pengetahuan, kesadaran, motivasi, dan tujuan. Di dalam pengertian Muhammadiyah, guru merupakan subjek pendidikan, dan subjek dakwah yang sangat penting fungsi dan amal pengabdiannya. Perlu diketahui bahwa tujuan Muhammadiyah dalam lapangan pendidikan yaitu membentuk manusia yang muslim yang cakap, berakhlak mulia, percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat. Jadi tidak hanya bertujuan membentuk manusia intelektual saja, tetapi juga manusia muslim, manusia moralis, dan manusia yang berwatak.
Segi menarik yang lain dari sekolah Muhammadaiyah, pemisahan Bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri merupakan langkah yang menentukan dalam pandangan kaum pembaharu. Di pondok pesantren, bahasa Arab diajarkan sebagai bagian membaca Al-Qur’an. Setelah mempelajari huruf Arab dan cara pengucapan, ayat-ayat Al-Qur’an dipelajari secara urut, dan tafsir ayat-ayat tertentu diberikan dalam bahasa Jawa. Tidak ada pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa. Sekolah Muhammadiyah mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran yanga berdiri sendiri. Ini telah dicoba sebagai pembaruan dalam mempelajari Al-Qur’an dikalangan masyarakat Jawa di Mekah akhir abad ke-19, ketika Snouck Hurgronje tinggal di sana (Hurgronje, 1931: 267).
Metode baru yang diterapkan oleh sekolah  Muhammadiyah mendorong pemahaman Al-Qur’an dan Hadis secara bebas oleh para pelajar sendiri. Tanya jawab dan pembahasan makna dan ayat tertentu juga dianjurkan dikelas. “Bocah-bocah dimardikaake pikire (anak-anak diberi kebebasan berpikir)”, suatu pernyataan yang dikutip dari seorang pembicara kongres Muhammadiyah tahun 1925, melukiskan suasana baik sekolah-sekolah Muhammadiyah pertama kali (Mailrapport No. 467X/25: 13).[8]
Dengan sistem pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah, bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa berkeperibadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum atau yang berilmu agama saja.


BAB III
KESIMPULAN
Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1968 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1921. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid besar KratonYogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.
Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan mulai disosialisasikan ketika menjabat khatib di Masjid Agung Kesultanan. Salah satunya adalah menggarisi lantai Masjid Besar dengan penggaris miring 241/2 derajat ke utara. Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per­kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya.
Gerakan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya terhadap taqlid semakin jelas.akan tetapi ia tidak menyalurkan ide-idenya secara tertulis. Pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
1.      Muhammadiyah sebagai gerakan Ilam
2.      Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah
3.      Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid
4.      Muhammadiyah sebagai gerakan gerakan keagamaan

DAFTAR PUSTAKA

Sairin, Weinata , Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah, Jakarta: PT Fajar Interpratama, 1995.
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Grafindo Persada, 1990.
Asrofie, M Yusron, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Kepemimpinannya, Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983.
Mulkhan, Abdul Munir, Warisan Intelektual KH Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah Cet I, Yogyakarta: PT Percetakan Persatuan, 1990.
Anshoriy Ch, Nasruddin, Matahari Pembaharuan, Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher, 2010.
Jatmika. Sidik, Kauman; Muhammadiyah Undercover, Yogyakarta: Gelanggang,2010


[1] M. Yusron Asrofie, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Kepemimpinannya, hlm. 21.
[2] Abdul Munir Mulkhan SU, Warisan Intelektual KH Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah Cet I ,hlm. 62.
[3] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia , hlm. 95.
[4] Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah , hlm. 24-24.
[5] Sidik Jatmika dkk, Kauman; Muhammadiyah Undercover, hlm. 32.
[6] Nasruddin Anshoriy Ch, Matahari Pembaharuan, hlm. 110.

[7] Ibid
[8] Ibid, hlm. 112.

4 komentar: