Selasa, 13 November 2012

KECERDASAN MORAL DAN SPIRITUAL DALAM PSIKOLOGI ISLAM

Oleh: Arfian Bayu Bekti



BAB I
PENDAHULUAN

Sejak zaman pencerahan (renaissance). Ilmu pengetahuan sangat diagungkan sebagai lambang kemajuan peradaban, inteligensi naik daun dan dianggap sebagai prediktor utama kesuksesan dalam hidup. Seseorang dianggap cerdas jika memiliki intelligence quotient (IQ) yang tinggi.
Sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan, memegang peranan penting dalam mengembangkan kecerdasan intelektual tersebut, kurikulum sebagai perangkat pengajaran sangat memfokuskan pada peningkatan kecerdasan ini. Kecerdasan lain seperti kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan moral (MQ), kecerdasan spiritual (SQ) kurang diperhatikan bahkan hanya sebagai pelengkap. Sebagai contoh, pelajaran matematika, fisika ( ilmu pengetahuan sain), biologi, bahasa Inggris diberikan 4 – 5 kali jam pelajaran dalam seminggu sedangkan pelajaran agama, moral hanya 2 jam.[1]
Namun, ketika seseorang dengan kemampuan IQ adan EQ yang cemerlang berhasil meraih kesuksesan, seringkali ia merasa kosong dan hampa dalam batin (hati). Hal ini terjadi karena tidak adanya spirit dari dalam diri yang memperkuat vitalitas hidup dan ini bisa membuat seseorang terjerumus pada hal-hal yang negatif. Di sinilah perlunya kecerdasan spiritual (SQ).
Pendidikan yang semata-mata hanya menekankan pada otak, dengan sendirinya menjadi bumerang bagi kita : siswa,orang tua, pendidik dan masyarakat, Bukan hal yang baru lagi ketika kita mendengar perkelahian pelajar, kekerasan, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak, remaja. Ini terjadi karena kita melewatkan sisi moral dalam kehidupan anak-anak didik kita. Pelajaran moral dikesampingkan, hanya sebatas hapalan, teori, tidak memberikan dampak kebajikan moral. Satu lagi yang hilang dari pendidikan dan hidup kita : Kecerdasan Moral (MQ). Kecerdasan Moral dan Kecerdasan Spiritual, dua hal ini yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan (dalam bahasa inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami secara sempurna. Sedangkan menurut arti bahasa adalah pemahaman,kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu sehingga Ibnu Sinna menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif.[2]
J.P chaplin merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: (1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru dengan cepat dan efektif; (2) Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif yang meliputi empat unsur seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengkritik; (3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali. Sedangkan, Willian stern mengemukakan bahwa intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang induvidu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohani secara umum yang disesuaikan dengan problema-problema kehidupan.[3]
B. Macam-macam Kecerdasan
Ada berbagai macam jenis-jenis kecerdasan, yaitu diantaranya kecerdasan emosional,kecerdasan moral, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan spiritual. Namun dalam makalah ini hanya akan membahas dua aspek kajian kecerdasan saja, yakni kecerdasan moral dan kecerdasan spiritual.


1.      Keceradan Moral
“Kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah: artinya, memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut” Michele Borba.[4]
Kecerdasan yang sangat penting ini mencakup karakter utama seperti kemampuan memahami penderitaan orang lain dan tidak bertindak jahat; mampu mengendalikan dorongan dan menunda pemuasan; mendengarkan dari berbagai pihak sebelum memberi penilaian; menerima dan menghargai perbedaan; bisa memahami pilihan yang tidak etis; dapat berempati; memperjuangkan keadilan dan menunjukan kasih sayang dan rasa hormat terhadap orang lain.
Membangun kecerdasan moral sangat penting dilakukan agar kita bisa membedakan yang benar dan mana yang salah, sehingga kita dapat menangkis pengaruh buruk dari luar. Kecerdasan moral dapat dipelajari dan kita bisa mulai mengajarkannya sejak balita, sekolah juga tidak boleh lepas dari peran ini. Karena, seorang anak yang sudah duduk di bangku sekolah, akan menghabiskan sebagian dari waktunya di sekolah, berinteraksi dengan guru –guru yang berperan sebagai pengajar dan pendidik dan teman-teman yang dapat memberikan pengaruh positif dan juga negatif.

Kecerdasan Moral dari perspektif agama Islam
Moral secara bahasa bermakna tingkah laku, kebiasaan, sedangkan dalam bahasa agama, dalam hal ini Islam, Moral sama dengan Akhlak.
Secara bahasa, akhlak berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (as-sajiyah) dan tabiat (at-thab’u).Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dilaksanakan ketika ia melakukan aktivitasnya. Sifat-sifat akhlak ini tampak pada diri seorang muslim tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitas seperti ibadah, mu’amalah dan lain sebagainya.
Akhlak merupakan bagian dari syariat Islam, yakni bagian dari perintah dan larangan Allah yang berhubungan dengan sifat-sifat seperti : jujur, sabar, lemah lembut, berbbuat adil, kasih sayang, dan lain sebagainya. Sebagai contoh yakni firman Allah SWT dalam surat (Ali Imron: 200 ) sebagai berikut:
 
Artinya:
 Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.[5]

2.      Kecerdasan Spiritual
Spiritual diambil kata spiritus  yang artinya sesuatu yang bisa memperkuat vitalitas hidup kita. Spiritual atau spiritus itu menurut teori dasarnya memang berbeda dengan agama. Spiritus adalah bawaan manusia dari lahir, sedangkan agama adalah sesuatu yang datangnya dari luar diri kita. Agama memiliki seperangkat ajaran yang dimasukan ke dalam tubuh kita. Ajaran agama, sejauh itu diserap dari kulit sampai isi maka akan meningkatkan spiritual kita.
Kecerdasan spiritual merupakan penemuan terkini secara ilmiah yang pertama kali digagas melalui riset yang sangat komprehensif oleh Danah Zohar (Harvard University)dan Ian Marshall (Oxford  University). Beberapa pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual dipaparkan Zohar dan Marsahall dalam Spiritual Quotient, The Ulitimate Intelligence (puncak kecerdasan). Pada tahun 1997 ahli saraf VS Ramachandran  dan timnya dari California  University  menemukan eksistensi God Spot (Titik Tuhan) dalam otak manusia yang terbangun sebagai pusat spiritual yang terletak di bagian depan otak.
Danah Zohar dan Ian Marshall mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value (nilai), yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya , kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan yang lain.

Kecerdasan Spiritual dari perspektif agama Islam
Firman Allah dalam surat Al- Hajj:46

Artinya:
“Tiadakah mereka mengembara di muka bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka mengerti, dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Sungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya, yang ada dalam (rongga) dadanya”. (QS. Al Hajj :46)
Menurut Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya yang berjudul Emotional Spiritual Quotient Suara hati yang terletak pada God Spot yang menjadi landasan kacerdasan spiritual (SQ). Suara hati adalah suara yang cocok dengan sifat-sifat Tuhan (Allah) yang terdapat dalam Asmaul Husna seperti Maha Penolong, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Melindungi. berikut sebuah contoh yang menunjukan bahwa salah satu sifat Allah ditiupkan dalam hati manusia.[6]
Menurut Robert K Cooper PhD, “Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang terdalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi yang kita jalani. Hati mampu mengetahui hal-hal mana yang tidak boleh, atau yang tidak dapat diketahui oleh pikiran kita. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas serta komitmen. Hati juga adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita untuk melakukan pembelajaran, menciptakan kerjasama, memimpin serta melayani.”
Suatu hari kita melihat seorang teman yang sedang bersedih, kita bertanya apa yang terjadi dengannya kemudian ia menceritakan bahwa ia sedang memerlukan uang untuk biaya operasi anaknya. Mengetahui teman kita sedang dalam mendapat cobaan,muncul suara kita untuk menghibur, memberi semangat, dan juga memberikan bantuan. Suara hati yang keluar tersebut adalah salah satu sifat Allah yang ditiupkan dalam hati manusia. Suara hati yang sama akan dirasakan oleh manusia di seluruh dunia baik ia orang kaya, miskin, penganut agama apapun jika ia berada dalam kondisi fitrah. Manusia memiliki nilai yang 1 (satu) bersifat universal dan ihsan. Menurut Al Qur’an, sebelum bumi dan manusia diciptakan, ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Tuhannya.
“Bukankah Aku Tuhanmu?’ Lalu ruh menjawab: “Ya, kami bersaksi!” (QS.Al A’raf:172). Menurut Muhammad Abduh bukti perjanjian tersebut ialah adanya fitrah iman dalam diri manusia dan menurut Prof Dr N Dryarkara SJ hal ini juga dikuatkan dengan adanya suara hati manusia yaitu yang mana itu adalah suara tuhan.Oleh karena itu, jika manusia berbuat keburukan, kemungkaran, suara hati nurani akan melarang. Jika manusia berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan nurani, ia akan menyesalinya.Menurut Mac Scheler, penyesalan adalah tanda kembalinya seseorang kepada tuhan
Adakalanya suara hati terbelenggu dan hati nurani menjadi buta. Ary Ginanjar mengungkap ada 7 belenggu yang menghalangi munculnya suara hati pada God Spot yaitu Prasangka, Prinsip hidup, Pengalaman, Kepentingan, Sudut pandang, Pembanding, dan Fanatisme. Belenggu-belenggu ini mempengaruhi cara berpikir sehingga membuat manusia pasif, tidak produktif, tidak kreatif, berpikir sempit, tidak maju, tidak sinergi, tidak bahagia, dapat membawa manusia pada kesengsaraan bahkan kehancuran.[7]
Suara Hati adalah sifat-sifat Tuhan yang ditiupkan dalam diri manusia, agar suara hati selalu muncul dan menjadi kekuatan dalam diri, harus kita ketahui maknanya, sehingga ketika kita mengucapkannya terus menerus hal tersebut akan membangun kekuatan pikiran bawah sadar ynag akhirnya membentuk sebuah kekuatan yang mampu mengikis belenggu-belenggu. inilah yang disebut Repetitive Magic Power yaitu zikir dan tasbih .Misalnya ucapan Subhanallah , dengan mengingat kesucian nama serta sifat Tuhan setiap,akan terus membantu mengendalikan kejernihan hati, tanpa didasari latar belakang, sudut pandang dan belenggu lain yang mengkotori kejernihan hati.
Allah berfirman : “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.” (QS.Ar Ra’d : 28)
Dengan berzikir kita akan menjadi tenang dan memiliki harapan atas apa yang Allah janjikan, dalam sebuah hadits Nabi bersabda : “Barangsiapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan aku memujiNya” dalam seratus kali maka kesalahannya dihapus sekalipun seperti buih air laut”.
Suara hati manusia adalah kunci spiritual, dalam Islam, ia adalah pancaran sifat-sifat Ilahi. Misalnya, keinginan diperlakukan adil, hidup sejahtera, ingin mengasihi dan dikasihi adalah sifat-sifat Allah. Al Qur’an menyebutkan ada 99 sifat-sifat Allah yang dikenal dengan Asmaul Husna. Ary Ginanjar menyederhanakan sifat-sifat ini atau menjadi 7 nilai dasar dalam mengasah kecerdasan spiritual yaitu : Jujur, Tanggung Jawab, Disiplin, Kerjasama, Adil, Visioner, Peduli.
Sifat-sifat ini harus dijadikan dasar dan nilai yang akan memberikan “ meaning” (nilai ) bagi yang melaksanakan sehingga hidup menjadi lebih terarah dan bermakna bagi diri sendiri dan juga orang lain.Agar sifat-sifat ini mendarah daging dalam diri, kita perlu melatih diri,kita perlu mengasah kecerdasan spiritual kita. Sukidi, dalam bukunya yang berjudul Kecerdasan Spiritual, Rahasia Sukses Hidup Bahagia memberikan langkah-langkah cara mengasah kecerdasan spiritual yaitu:
1. Kenali diri sendiri. Karena orang yang sudah tidak bisa mengenal dirinya sendiri akan mengalami krisis makna hidup maupun krisis spiritual.
2. Lakukan introspeksi diri. Dalam bahasa agama dikenal dengan ‘pertobatan’ lakukan pertanyaan pada diri sendiri. Apa saja yang kita sudah lakukan, benar atau salah.
3. Aktifkan hati secara rutin. Dalam konteks orang beragama ini disebut mengingat Tuhan, karena Dia adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepada-Nya kita kembali. Mengingat Tuhan dapat dilakukan melalui sholat, berzikir, dan lain sebagainya yang dapat mengisi hati manusia dengan sifat-sifat Tuhan.
Setelah kita mengingat Sang Khalik, kita akan menemukan keharmonisan dan ketenangan dalam hidup. Misalnya kita tidak akan takut rezeki kita akan hilang karena rezeki kita sudah dijamin, namun kita justru harus takut untuk melakukan perbuatan yang dilarang. Kita tidak akan lagi menjadi manusia yang rakus akan materi, tapi dapat merasakan kepuasan tertinggi berupa kedamaian dalam hati dan jiwa, sehingga kita mencapai kesseimbangan dalam hidup dan merasakan kebahagiaan spiritual.[8]
Implementasi kecerdasan moral dan spiritual dalam pengembangan pendidikan Islam
Dalam konteks ini, pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, sehingga antara psikologis, moral, spiritual, agama dan pendidikan merupakan beberapa rangkaian yang harus menyatu sebagai satu sistem pengetahuan.
Hal inilah yang mendasari bahwa psikologi,moral, spiritual, agama, dan pendidikan dan dapat diformat lewat pendekatan pengetahuan dan akademis. Beberapa aspek tersebut, yakni termasuk aspek moral dan spiritual dapat dimasukkan dalam kajian psikologi remaja sebagai bagian dari psikologi umum, yang erat sekali hubungannya dengan pendidikan Islam sebagai salah satu bagian dari ajaran Islam sebagai agama. Agar pendidikan remaja Muslim dapat berjalan lancar dan tujuannya bisa dicapai, maka penerapan psikologi (khususnya psikologi remaja) tak bisa diabaikan. Bahkan faktor ini sangat dominan bagi keberhasilan pendidikan, karena dengan psikologi dapat diketahui berbagai permasalahan dan kebutuhan para remaja yang erat kaitannya dengan keberhasilan pendidikan.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Dapat kita simpulkan bahwasanya bentuk-bentuk kecerdasan saling terkait satu sama lain. Kecerdasan intelektual (IQ) merupakan sesuatu yang penting bagi pemahaman seseorang terhadap lingkungan, serta proses berpikir dan ia dapat dikatakan salah satu faktor penentu kesuksesan hidup seseorang. Tapi itu hanya sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, kecerdasan emosilah yang sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi.
Memang IQ dan EQ adalah dua kecerdasan yang diperlukan untuk penyelarasan, penyelesaian masalah kebutuhan seseorang yang bersifat materi (jasmani), namun lebih dari itu manusia juga memerlukan konsep kecerdasan tinggi ynag mampu memenuhi keselarasan ruhaninya, kecerdasan itu tidak lain adalah kecerdasan spiritual (SQ) yang bersumber dari suara hati.
Kecerdasan ini tidak hanya mencakup hubungan vertikal yaitu hubungan manusia dengan Tuhannnya, tetapi juga hubungan horizontal yaitu bagaimana perilaku atau nilai-nilai yang dianut dalam interaksinya dengan sesama manusia ataupun dengan makhluk lainnya. Inilah yang dinamakan kecerdasan moral (MQ). Kecerdasan moral menjadikan hidup manusia memiliki tujuan.
Jika kita tarik benang merah, kecerdasan-kecerdasan tersebut diatas memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Kecerdasan Intelektual yaitu tingkat berpikir yang diperlukan dalam proses pemahaman seseorang terhadap diri sendiri dan lingkungan yang akan membawanya kepada persoalan spiritual misalnya asal dan tujuan hidup, jadi kecerdasan intelektual berpengaruh pada kecerdasan spiritual. Melalui pengenalan diri yang dalam, maka pengenalan terhadap orang lain dan lingkungan juga semakin baik, hal ini menimbulkan kepedulian terhadap sesama dan persoalan hidup yang dihadapi bersama, disinilah letak kecerdasan emosi.




DAFTAR PUSTAKA
Agustian Ginanjar Ary. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. The ESQ Way 165 Jakarta Agra Publishing.
Darmoyuwono Winarno, Dr.Ir.Msi. 2008. Rahasia Kecerdasan Spiritual.Jakarta PT. Sangkan Paran Media.
Mujib, Abdul dan Jusuf Muzakir. 2002.  Nuansa-nuansa Psikologi Islam, cet. 1, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hasan, Aliah B. Purwakania Hasan. 2006  Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
h tt p : / / belajarpsikologi.com / cara - meningkatkan - kecerdasan
h tt p : / / w w w . ca nboy z.co.cc / 2 0  1 0 / 0 7 / pengertian - psikologi - islam. html


[1] Hasan, Aliah B. Purwakania Hasan. Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006. Hal 134.

[2] Abdul Mujib dan Jusuf Muzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, cet. 1, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002, hal. 317.
[3] Ibid. Hal. 318
[4] h tt p : / / belajarpsikologi.com / cara - meningkatkan - kecerdasan

[5] h tt p : / / w w w . ca nboy z.co.cc / 2 0  1 0 / 0 7 / pengertian - psikologi - islam. html

[6] Ary Ginanjar  Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. The ESQ Way 165 Jakarta Agra Publishing, 2001
[7] Ari Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ. Cet 33, Jakarta: Arga, 2007. Hal 115.
[8] Dr. Winarno Darmoyuwono, Msi. Rahasia Kecerdasan Spiritual.Jakarta PT. Sangkan Paran Media, . 2008. Hal 57

1 komentar:

  1. mengembangkan kecerdasan spiritual memang sangat perlu bagi kita apalagi mengembangkannya melalui agama yg kita anut,akan lebih mudah dan dapat berhubungan langsung dengan allah swt. artikel ini sangat membantu bagi orang yg ingin mengembangkan kecerdasan spiritual melalui agama islam. terima kasih sudah mengepost,ini sangat membantu^^

    BalasHapus